Resonansi.co.id – Di banyak wilayah Indonesia, menemukan bunga Rafflesia adalah perkara nasib baik, waktu yang tepat, dan perjalanan jauh ke dalam hutan. Namun, “aturan” itu seolah tidak berlaku di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara.
Di kawasan konservasi seluas 1,3 juta hektare itu, Rafflesia Pricei justru dapat ditemukan dengan relatif mudah. Bahkan sebagian tumbuh tak jauh dari permukiman penduduk di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan.
Di TN Kayan Mentarang, Rafflesia Pricei tumbuh subur di dekat pemukiman
Salah satu lokasi kemunculan paling rutin berada di Desa Pa’ Kidang, Kecamatan Krayan Barat. Warga setempat mengelola destinasi wisata alam Buduk Udan, puncak setinggi 1.400 mdpl. Di rute pulang dari puncak ini, wisatawan kerap diajak menyusuri jalur lain yang langsung melintas di habitat alami Rafflesia pricei.
Kemunculannya pun seringkali berkelompok. Dalam satu titik, bunga raksasa tanpa batang dan daun ini bisa mekar lebih dari satu individu.
Meski dekat dengan pemukiman, seluruh kawasan tumbuhnya tetap berada di dalam zona TNKM. Hingga kini belum pernah tercatat Rafflesia pricei mekar di luar kawasan konservasi.
Kemunculan tak terduga, tapi lebih mudah dipantau
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito melalui Presisi.co menjelaskan bahwa mekar-tidaknya Rafflesia pricei tetap bersifat tak terduga seperti Rafflesia jenis lain. Namun pola kemunculannya di TNKM relatif lebih sering, terutama di wilayah pengelolaan Long Bawan.
“Mekarnya Rafflesia pricei tidak dapat diprediksi seperti tumbuhan pada umumnya. Berdasarkan hasil monitoring, Rafflesia pricei paling sering berbunga pada bulan Agustus. Namun monitoring berkala tetap dibutuhkan untuk melihat seberapa sering ia mekar,” ujarnya.
Hingga kini, Rafflesia pricei ditemukan di beberapa lokasi:
- SPTN Wilayah I Long Bawan: Desa Long Api, Desa Tang Paye, Desa Pa’ Kidang
- SPTN Wilayah II Long Alango: Rian Tubu
- SPTN Wilayah III Long Ampung: Paliran
Area terpantau paling aktif tetap berada di Long Bawan dan sekitarnya.
Rafflesia tumbuh subur, pertanda hutan masih sehat
Kepala SPTN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan, menegaskan bahwa keberadaan Rafflesia pricei menjadi indikator penting kualitas ekosistem TNKM.
“Dengan adanya Rafflesia pricei menandakan bahwa fungsi ekologis hutan TNKM masih terjaga. Rafflesia adalah tumbuhan sensitif terhadap gangguan,” ungkap Hery.
Faktor yang menentukan kemunculan bunga ini antara lain:
- kondisi inang Tetrastigma
- cuaca dan gangguan lingkungan
- siklus hidup mulai dari kopula, knop, hingga antesis (mekar)
Tidak ada pola waktu pasti, namun monitoring rutin memungkinkan masyarakat untuk mengetahui saat-saat potensial bunga akan mekar.
Masyarakat lokal kini menjadi penjaga sekaligus pemandu Rafflesia
Di Desa Pa’ Kidang, warga telah membentuk Kelompok Wisata Pa’ Kidang Makmur, bekerja sama dengan Balai TNKM dalam pengembangan ekowisata berbasis konservasi.
TNKM juga memberikan:
- pelatihan kepemanduan
- fasilitas shelter
- papan informasi dan interpretasi
- pembentukan Tim Monitoring Rafflesia
Tim monitoring ini membantu mendeteksi dan mencatat kemunculan Rafflesia pricei sehingga wisatawan yang datang dapat melihatnya pada waktu yang tepat.
Menariknya, menurut Hery, sebelum memahami nilai kelangkaan Rafflesia, masyarakat dahulu memanfaatkan bunga ini sebagai pakan anjing saat sedang berada di dalam hutan. Kini, perubahan pengetahuan dan kesadaran membuat mereka menjadi penjaga bunga langka tersebut.
Dalam budaya Dayak Lundayeh, masyarakat bahkan mulai menggunakan gambar atau replika Rafflesia sebagai ornamen tari — bentuk simbolik pelestarian budaya dan alam sekaligus.
Ekowisata yang lahir dari bunga langka
Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, berharap Desa Pa’ Kidang — termasuk destinasi Buduk Udan — dapat menjadi contoh pengembangan ekowisata berbasis konservasi yang menguntungkan masyarakat.
“Kami berharap lokasi destinasi wisata di Desa Pa’ Kidang khususnya di Buduk Udan dapat dikembangkan dan dilestarikan sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Kami juga mengharapkan dukungan para mitra dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Keberhasilan pengelolaan Rafflesia pricei ini tidak hanya memperkuat identitas Desa Pa’ Kidang sebagai tujuan ekowisata, tetapi juga menjadi bukti bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan. (*)





