Resonansi.co.id – Kekhawatiran soal banjir kembali membayangi warga Loa Janan Ilir. Dalam dua bulan terakhir, Oktober hingga November, hujan intens memicu genangan tinggi di sejumlah titik. Salah satunya di Jalan H.M. Rifaddin, persis di depan Kampus II UINSI Samarinda lokasi yang belakangan ini hampir setiap hujan deras langsung tergenang.
Muhammad Farikhin, pemuda Loa Janan Ilir, menyampaikan kondisi banjir di depan kampus kini jauh lebih sering dan lebih dalam dibanding beberapa tahun sebelumnya. Padahal pemerintah telah membangun drainase besar sebagai bagian dari proyek pengendalian banjir Sungai Karang Mumus (SKM).
“Awal bulan ini dan akhir bulan lalu, banjir di depan UINSI dalam sekali. Padahal drainasenya lebar, harusnya bisa menampung air,” ujarnya.
Menurut Farikhin, permasalahan tak lagi hanya soal kapasitas saluran. Ia menilai perubahan tutupan lahan di hulu justru menjadi penyebab utama. Dalam dua tahun terakhir, ia sering melihat pengerukan bukit dari kawasan lampu merah UINSI hingga sekitar RSUD Inche Abdoel Moeis.
“Dari lampu merah itu kelihatan jelas gunung dikeruk. Sampai dekat Moeis banyak sekali pengerukan,” tegasnya.
Meski begitu, Farikhin mengakui pembangunan drainase baru oleh Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim memberikan dampak positif. Ia menekankan bahwa upaya teknis tersebut tidak akan efektif bila ruang terbuka hijau dan vegetasi penahan air terus hilang. Tanpa pengendalian ketat, air akan tetap mengalir deras ke wilayah bawah.
Ia juga menyoroti aliran air dari kawasan UINSI yang akan turun langsung ke Jalan Barito, Loa Janan Ilir wilayah yang dikenal sebagai salah satu titik banjir terparah di Samarinda. Pada Mei lalu, kawasan itu pernah tergenang hingga setinggi dada orang dewasa akibat limpasan dari area perbukitan.
“Kampus UINSI posisinya di atas. Air pasti turun ke Barito yang sudah sering banjir,” katanya.
Farikhin berharap pemerintah kecamatan dan instansi teknis tidak hanya berkutat pada pembangunan fisik, tetapi juga memperketat pengawasan pembukaan lahan, terutama di kawasan perbukitan. Ia mengingatkan agar Loa Janan Ilir tidak mengikuti jejak sejumlah daerah lain di Indonesia yang mengalami bencana banjir besar akibat kerusakan lingkungan, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Barat belum lama ini.
“Kalau lahan terus dibuka, banjir makin parah. Jangan sampai kita lalai dan baru sadar setelah bencana besar terjadi,” tutupnya. (*)





