Menggaungkan Suara Masa Kini

Asal Usul dan Makna “Skena” hingga Munculnya Sindiran untuk “Polisi Skena”

Terbit Rabu, 27 November 2024
resonansi - skena - this is riot - tps kolektiv
This is Riot yang digelar oleh TPS Kolektif Bersama di Samarinda. (Foto: Instagram/@fahrudionurtrisakti)

Resonansi.co.id – Istilah “skena” belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial seperti Instagram dan TikTok. Meskipun bukan istilah baru—diketahui telah muncul sejak 2011 dalam konteks “skena fashion”—pada tahun 2023, istilah ini kembali viral dan memicu berbagai diskusi.

Asal Usul dan Makna “Skena”

Dalam bahasa gaul, “skena” belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Istilah ini diyakini berasal dari gabungan tiga kata: “sua” (berarti datang saling mendekati), “cengkerama” (percakapan untuk menggembirakan), dan “kelana” (berkelana tanpa tujuan tertentu). Dengan demikian, “skena” merujuk pada perkumpulan kolektif yang bertemu untuk bercengkerama dan berkelana bersama. Contohnya, komunitas penggemar musik indie disebut sebagai “skena indie”.

Perkembangan “Skena” di Media Sosial

Sepanjang tahun 2023, istilah “skena” di media sosial sering dikaitkan dengan preferensi musik, fashion, hingga budaya nongkrong di kedai kopi, terutama di kalangan Gen Z. Perdebatan mengenai selera musik pun muncul, dengan anggapan bahwa ada selera musik yang dianggap lebih “bagus” atau “jelek”.

Fenomena “Polisi Skena”

Seiring meluasnya penggunaan istilah “skena”, muncul pula istilah “polisi skena”. Istilah ini merujuk pada individu atau kelompok yang kerap mengkritik selera musik orang lain, menganggap diri mereka memiliki otoritas untuk menilai dan menghakimi preferensi musik orang lain. Fenomena ini menodai makna asli dari “skena” yang seharusnya menjadi ruang interaksi positif bagi para penikmat musik.

Skena Musik Indie di Indonesia

Menurut penelitian Jefri Yosep Simanjorang dalam jurnal Universitas Padjadjaran, “skena” merujuk pada komunitas yang menjadi ruang interaksi antara musisi, penikmat, dan ekosistem musik yang saling terkait. Bandung, misalnya, dikenal memiliki ekosistem musik indie yang hidup, melahirkan musisi seperti Mocca dan Fiersa Besari. Musik indie sendiri bukanlah genre, melainkan cara pengelolaan musik secara independen.

Tren Musik Indie di Kalangan Gen Z

Beberapa tahun terakhir, musik indie dianggap keren dan semakin diminati. Mendengarkan musik indie sering dianggap sebagai tanda selera musik yang unik dan tidak mainstream. Beberapa musisi indie favorit di kalangan Gen Z antara lain Danilla, Fourtwenty, Float, Coldiac, Mocca, dan Biru Baru. Namun, pengkotak-kotakan ini juga memicu munculnya “polisi skena” yang mengkritik selera musik orang lain.

Setiap skena musik memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, skena metal identik dengan fashion serba hitam dan rambut gondrong, sementara skena hip-hop cenderung berbusana longgar dengan sepatu sneaker. Namun, penting untuk diingat bahwa selera musik adalah hal yang subjektif, dan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghakimi preferensi orang lain.


Artikel ini dilansir dari Universitas Islam Indonesia.


Bagikan:

BERITA TERKAIT

daftar slotmantap

slotmantap alternatif

slotmantap link

slotmantap

slot mantap